Jumat, 13 Desember 2013

Dialektika sosial

11 Januari 2013 pukul 0:25

Dialog Kebenaran= Jangan Sampai Justru Menemukan Kesalahan!



Apakah dengan dialog Kebenaran, engkau akan menemukan Kebenaran?Mungkin Iya dan Mungkin Tidak!Mungkin akan timbul perdebatan yang justru akan membuat kita hanya bisa menemukan kesalahan…..

Seorang sahabat baik, dari Aceh, mengirimkan dialog kebenaran ini pada saya, sebagai tanggapan atas tulisan saya yang berjudul “Adakah Kebenaran Dalam Kitab Suci?!”

Setelah saya baca berulang kali, dan meminta saran dari beberapa sahabat, akhirnya saya merasa tertarik untuk mempublikasikannya.
Apalagi ada dorongan yang datang dari sahabat dengan komentarnya:
“dialog yang sangat menarik dan menggugah…makasih dah berbagi, pak..
diposting aja. kebaikan dan kebenaran harus disebarluaskan, Pak Kate….”
Dan ini pesan dari saudaraku nun jauh disana memberikan pesannya:
“ada kah manfaat dr dialog imajiner itu? Itu tadi dalam duduk kesendirian aku dan tiba-tiba teringat padamu dan jadilah dialog imajiner itu. Jika ada manfaatnya publish lah”

Mari kita sedikit berdialog, bukan untuk membuktikan siapa yang paling benar, tapi adalah untuk membuka cakrawala pemikiran kita dan mendapatkan kebenaran itu sendiri. Berdialog bukan untuk membuktikan bahwa diri kita yang paling benar, tetapi berdialog untuk menemukan kebenaran bersama. Bahwa saya benar, kamu juga benar. Karena kita tidak harus mengatakan sebagai yang paling benar, untuk membuktikan bahwa yang lain adalah salah.


Dialog Kebenaran

Bang, ada tidak ya kebenaran itu?

Menurutmu?

Ya, ada. Tapi, ada tidak kebenaran di kitab suci?
Kalau ada ambillah, karena ia kau sebut kitab suci. Kalau tidak ada jangan sebut kitab suci.

Bang, serius nih! Ada tidak kebenaran di kitab suci?

Kalau tidak percaya buktikan saja. Kalau terbukti berarti benar. Kalau tidak, berarti salah.

Wah, bagaimana aku membuktikan. Aku kan bukan ahli. Mana sempat pula aku meneliti.

Ya tanya sama ahlinya. Atau, baca buku yang dikarang ahli berdasarkan penelitiannya. Minimal ikut kata ahli. Kan kamu tidak mesti gigit cabe banyak-banyak dulu baru mau mengakui kalau cabe itu pedas karena sudah umum orang bilang kalau cabe itu memang pedas.

Kalau semua kitab suci musnah oleh perang nuklir dan kita berdua saja yang hidup. Apa kebenaran juga sudah tidak ada?
Berarti salah satu di antara kita akan jadi Nabi.
Kan Nabi sudah tidak ada lagi.
Kalau tidak ada Nabi (N besar) maka ada nabi (n kecil).
Bagaimana kalau selama jadi Nabi atau nabi tidak datang wahyu?
Jika ayat-ayat langsung Tuhan tidak datang lagi kita temukan ayat-ayat Tuhan di dalam alam atau di dalam diri kita saja.

Nah, itu yang aku mau katakan bahwa kebenaran sejati itu ada dalam diri kita. Kitab itu hanya penuntun bagi kita untuk menemukan kebenaran sejati yang ada dalam diri kita. Jadi sekali pun semua kitab suci sudah tidak ada kebenaran sejati itu tetap ada, dan sedekat-dekat kebenaran itu ada dalam diri kita.

Jadi, maunya kamu semua kitab suci dimusnahkan saja?

Mengapa tidak, jika buku-buku dan kitab suci itu menghalangi kita untuk menemukan kebenaran sejati.

Lalu, bagaimana nasibnya sama orang yang tidak punya otak?

Apa kamu mau di kloning sebanyak manusia seperti buku atau kitab suci yang dicetak begitu banyak?

Ya , tidak se-ekstrem itu lah bang!

Jadi? Maksud dan maumu?

Aku hanya prihatin melihat saudara-saudara kita yang memperlakukan secara berlebihan kitab suci dan orang-orang suci. Sampai ia tidak lagi mendayagunakan potensi dirinya.

Namanya saja kitab suci. Ya pantas di sucikan. Masak kamu mau letakkan sandal di atas kepala dan Kitab Suci kamu letakkan di kaki. Begitu juga orang suci, sangat wajar jika dihormati. Apa kamu mau menghadap presiden dengan celana kolor hanya dengan alasan kamu boleh dan bisa menemui istrimu tanpa baju. Ini kan soal penghormatan.

Kan abang bilang kita harus membunuh tuhan selain Tuhan. Ini kan sama saja.

Mentuhankan jelas beda dengan penghormatan. Mentuhankan adalah sikap kepasrahan, ketaatan, dan penyerahan secara total kepada sesuatu dan kita percaya dialah penguasa dan penentu hidup dan atau mati kita. Kita,sebagai makhluk paling pintar dari makhluk lainnya sangat tidak boleh mentuhankan sesuatu yang memang bukan Tuhan. Tuhan adalah sang kebenaran mutlak dan semua kebenaran yang ada, baik dikitab suci, di alam raya, dan di diri sendiri bersumber dari kebenaran mutlak, Tuhan karena semua alam dan isinya, termasuk kita berasal dari Dia dan kembali ke Dia.

Tapi bang, kan ada yang bilang Tuhan sudah mati.
Kamu mau ikut yang bilang Tuhan sudah mati padahal sekarang justru dia yang sudah mati atau kamu mau ambil pelajaran dari apa yang sudah yang ditemukannya.

Maksud abang dengan yang sudah ditemukan apa?

Dia justru mendapati Tuhan dalam dirinya. Berarti yang dia bunuh itu adalah tuhan-tuhan dan bukan Tuhan. Dulu, Nabi Ibrahim, sang tauladan Nabi akhir zaman walau tidak sampai membunuh tuhan tapi dia berpaling dari tuhan-tuhan para ahli dan pembesar karena baginya Tuhan yang sebenarnya adalah Zat-Nya yang telah menghidupkannya.

Jadi benarkan kebenaran sejati ada dalam diri kita?

Itu kalau bagian otak cerebral cortex dan sistem limbik (otak emosi) berfungsi atau bisa difungsikan dengan baik.
Maksudnya, kalau kamu pintar ya kamu akan menemukan atau membuktikan kebenaran dan kalau kamu bisa mengelola emosi maka kamu akan bisa mendapatkan sentuhan kasih sayang Tuhan.

Abang memangnya pintar dan sudah menemukan kebenaran dalam diri yang bisa membuktikan kebenaran yang ada dalam kitab suci?
Coba uraikan kepada saya salah satu contohnya?

Oke, sekarang mari kita buktikan kebenaran Tuhan tentang pengakuannya akan ilmunya yang tidak mungkin sanggup kita hitung. Coba cek tentang DNA sebagai penyimpan data yang ada dalam diri kita.
Informasi di dalam DNA begitu melimpah, sehingga bila buku-buku yang berisi informasi ini ditumpukkan, tumpukan buku akan mencapai ketinggian sampai 70 meter (230 kaki). Kalau kita ketik informasi yang ada dalam DNA dengan kemampuan manusia mengetik waktu 60 kata per menit dan bekerja 8 jam sehari akan memerlukan waktu setengah abad penuh untuk menyelesaikan tugas besar ini. Kalau dibanding dengan buku telepon maka DNA setara dengan hampir 200 buku telepon, masing-masing setebal 500 halaman.
Masih terkait DNA, rantai yang tersusun dari atom yang berbaris berdampingan, yang masing-masing bergaris tengah sepersejuta milimeter ini, menyimpan informasi dan memori dalam jumlah yang sangat besar sehingga dapat digunakan makhluk hidup untuk menjalankan seluruh fungsi kehidupannya. Ini adalah bukti penciptaan. Ini baru sedikit rahasia yang terungkap dari apa yang difirmankan Tuhan bahwa Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al Kahfi, 18: 109)

Abang kog tahu sih? Memang abang peneliti?

He he he

Abang cari di google kan?

Kamu ini mau dialog atau alogdi?

Maksud alogdi?

Aku lo gitu di ajak dong.

Oh, kalau gitu ajak aku dong ke restoran

Ayo, nanti disana aku keluarkan satu ayat alam “Jangan makan cabe satu mangkok karena itu sangat pedas.” Nanti kamu jangan percaya ya. Jadi kamu buktikan aja dulu ya.”
Ah, abang tidak ikhlas kalau mengajak he he

Tidak ada komentar:

Posting Komentar