2 Agustus 2013 pukul 22:20
Di masa pemilu dahulu
Kami lihat gerak bola matamu seperti radar
angkatan
perang
Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu
siang
Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-
tuan tahu apa
yang kami mau
Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan
akan menjadi
pelindung kami
dari orang-orang yang hanya ingin
memperkaya diri
sendiri
yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta
sebagai
senjata
Lewat retorikamu di saat kampanye dulu
Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga
untuk kami
sepanjang waktu
Menunggu keluh kesah rakyatmu
Menampung dan merundingkan aneka
kehendak kami
diantara sesama para politisi
Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu
Kursi berputar menyambut sibukmu
Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu
Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu
Kita pun berjarak seperti tak pernah saling
tahu
Jauh di luar ruang kerjamu
ada pagar kekar berteralis baja
Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu
dan bersiap dengan pertanyaan:
Mengapa diammu bukan lagi perenungan?
Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian?
Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika?
Di kejauhan pun kami mendengar
Suara tinggi mu menggelegar
menggertak usulan rakyatmu sendiri
yang tengah berharap tegaknya demokrasi
sejati
lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa
menghasilkan
pemimpin sejati
(Kami pun bertanya, “Mengapa tuan-tuan tidak
berkenan
ketika ada orang ingin menjadi pemimpin
sejati negeri ini?”)
Dengan sigap tuan-tuan berujar,
“Calon perorangan merusak sistem!”
“Calon perorangan harus didukung 15% suara
sah!”
Dan seterusnya.. dan seterusnya…
Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju
ruangan kantormu
Di sana kami melintasi para penjaga
berseragam bak
bala tentara Kaisar Romawi
Yang sigap menyuruh kami memarkir
kendaraan jauh dari halaman parkirmu
Sehingga kami harus berlari menghindari
sengatan terik matahari
Masih bisakah kami percayai janjimu
Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda
janji
Tetapi pengawal ucapanmu
bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan
legislasi
Kami pun mulai sadar
bahwa wakil rakyat di zaman kini
sudah membedakan antara penyalur aspirasi
dan
kekuasaan legislasi
sudah membedakan antara kompetisi dan
demokrasi
Di media massa kami membaca
Retorika-retorika barumu yang merobek
makna
dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari
logika
mencampuradukkan energi sekumpulan partai
dengan
energi seorang manusia
yang tidak ada contohnya di mancanegara
Kini kami merasa seperti orang-orang yang
ditinggal pergi
Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin
menjadi wakil-wakil kami
dan dulu pernah memberi janji
bahwa engkau akan menampung suara hati
kami
Tetapi ternyata waktu itu kami hanya
bermimpi
Retorika dan olah mimikmu tentu saja
membuat banyak orang terpesona
melumpuhkan niat orang-orang muda yang
akan berdemonstrasi
Bahkan membuat para lansia mengangguk-
angkuk sambil tertawa
Yang memberi pertanda bahwa akal sehat
tidak lagi berdaya
Karena logika menjadi tidak berguna
Sementara politik dilanda krisis etika
dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari
kedaulatan rakyat
maka hari ini kami menyapamu dengan puisi
Kami lihat gerak bola matamu seperti radar
angkatan
perang
Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu
siang
Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-
tuan tahu apa
yang kami mau
Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan
akan menjadi
pelindung kami
dari orang-orang yang hanya ingin
memperkaya diri
sendiri
yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta
sebagai
senjata
Lewat retorikamu di saat kampanye dulu
Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga
untuk kami
sepanjang waktu
Menunggu keluh kesah rakyatmu
Menampung dan merundingkan aneka
kehendak kami
diantara sesama para politisi
Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu
Kursi berputar menyambut sibukmu
Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu
Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu
Kita pun berjarak seperti tak pernah saling
tahu
Jauh di luar ruang kerjamu
ada pagar kekar berteralis baja
Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu
dan bersiap dengan pertanyaan:
Mengapa diammu bukan lagi perenungan?
Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian?
Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika?
Di kejauhan pun kami mendengar
Suara tinggi mu menggelegar
menggertak usulan rakyatmu sendiri
yang tengah berharap tegaknya demokrasi
sejati
lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa
menghasilkan
pemimpin sejati
(Kami pun bertanya, “Mengapa tuan-tuan tidak
berkenan
ketika ada orang ingin menjadi pemimpin
sejati negeri ini?”)
Dengan sigap tuan-tuan berujar,
“Calon perorangan merusak sistem!”
“Calon perorangan harus didukung 15% suara
sah!”
Dan seterusnya.. dan seterusnya…
Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju
ruangan kantormu
Di sana kami melintasi para penjaga
berseragam bak
bala tentara Kaisar Romawi
Yang sigap menyuruh kami memarkir
kendaraan jauh dari halaman parkirmu
Sehingga kami harus berlari menghindari
sengatan terik matahari
Masih bisakah kami percayai janjimu
Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda
janji
Tetapi pengawal ucapanmu
bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan
legislasi
Kami pun mulai sadar
bahwa wakil rakyat di zaman kini
sudah membedakan antara penyalur aspirasi
dan
kekuasaan legislasi
sudah membedakan antara kompetisi dan
demokrasi
Di media massa kami membaca
Retorika-retorika barumu yang merobek
makna
dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari
logika
mencampuradukkan energi sekumpulan partai
dengan
energi seorang manusia
yang tidak ada contohnya di mancanegara
Kini kami merasa seperti orang-orang yang
ditinggal pergi
Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin
menjadi wakil-wakil kami
dan dulu pernah memberi janji
bahwa engkau akan menampung suara hati
kami
Tetapi ternyata waktu itu kami hanya
bermimpi
Retorika dan olah mimikmu tentu saja
membuat banyak orang terpesona
melumpuhkan niat orang-orang muda yang
akan berdemonstrasi
Bahkan membuat para lansia mengangguk-
angkuk sambil tertawa
Yang memberi pertanda bahwa akal sehat
tidak lagi berdaya
Karena logika menjadi tidak berguna
Sementara politik dilanda krisis etika
dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari
kedaulatan rakyat
maka hari ini kami menyapamu dengan puisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar